9 KARYA ROH KUDUS DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI
Penulis: Rev. Fazli Samil
Sabah Reformed Presbyterian Church Amanat Agung, Kota Kinabalu
Topik tentang Roh Kudus sangat penting bagi Gereja, namun hal itu tidak menutup kenyataan bahawa masih ramai yang kurang memahami bagaimana Roh Kudus terus bekerja secara nyata dalam pelbagai aspek kehidupan sehari-hari. Kitab Suci mengajarkan bahawa Roh Kudus bukan sahaja dicurahkan pada hari Pentakosta sebagai penggenapan janji Kristus, malah terus bekerja secara berterusan dalam dan melalui setiap orang percaya hingga ke hari ini. Pekerjaan-Nya tidak terbatas pada pengalaman-pengalaman luar biasa atau manifestasi karismatik semata-mata, tetapi juga merangkumi dimensi rohani yang membentuk karakter, membimbing dalam membuat keputusan, menghiburkan dalam penderitaan, serta menguatkan bagi yang lemah dan berduka. Oleh itu, dalam bahagian ini, kita akan menelusuri sembilan aspek utama pekerjaan Roh Kudus yang bersifat praktikal dan relevan bagi kehidupan orang percaya. Daripada peranan-Nya membimbing dan menyedarkan hati terhadap dosa, sehinggalah kepada menghasilkan buah Roh dan menganugerahkan karunia untuk pelayanan, semuanya ini memperlihatkan betapa dalam dan uniknya karya Roh Kudus dalam membentuk hidup kita agar semakin menyerupai Kristus.
1. Membimbing dan Mengarahkan
Salah satu pekerjaan utama Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya ialah membimbing dan mengarahkan mereka kepada kebenaran Allah dalam segala aspek kehidupan. Dalam Yohanes 16:13, Yesus berjanji bahawa “apabila Ia datang, iaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran.” Ini menandakan bahawa Roh Kudus bukan sekadar pemberi penghiburan, tetapi juga pembimbing secara aktif, memahami kehendak Allah, dan melakukan kehendak Allah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang mencabar ini, peranan Roh Kudus sebagai pembimbing menjadi semakin penting agar setiap keputusan dan tindakan yang diambil berpaut kepada prinsip-prinsip Firman Tuhan.
Roh Kudus juga memberikan hikmat kepada orang percaya dalam membuat pertimbangan yang bijaksana dan selaras dengan kehendak Tuhan. Dalam surat Yakobus, hikmat daripada atas digambarkan sebagai “murni, pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak berat sebelah dan tidak munafik.” Hikmat sedemikian tidak berasal dari kebijaksanaan manusia semata-mata, tetapi merupakan pemberian Roh Kudus yang bekerja dalam hati dan akal budi orang percaya. Ia bukan sahaja relevan dalam perkara rohani, tetapi juga dalam aspek-aspek praktikal kehidupan seperti pendidikan, kerjaya, kewangan, dan hubungan antara sesama. Melalui pembacaan Firman Tuhan, doa, seseorang dapat diarahkan untuk memilih yang benar, menolak yang salah, dan hidup dengan integriti di hadapan Allah dan manusia.
Lebih daripada itu, bimbingan Roh Kudus seringkali bersifat progresif dan bersesuaian dengan tahap pertumbuhan rohani seseorang. Ini bermakna Roh Kudus tidak membebani kita dengan tuntutan yang melampaui kemampuan, tetapi secara sabar memimpin langkah demi langkah, menguatkan iman dan memperluas pemahaman akan kehendak Allah. Justeru, setiap orang percaya diajak untuk hidup dalam kebergantungan yang berterusan kepada Roh Kudus dan tidak bersandar pada kekuatan sendiri. Firman Tuhan menyatakan, “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri” (Amsal 3:5), dan hal ini hanya dapat diwujudkan apabila hati dibuka untuk dibentuk dan dipimpin oleh Roh Kudus dalam setiap detik kehidupan.
2. Menghibur dalam Penderitaan
Penderitaan merupakan realiti yang tidak dapat dielakkan oleh manusia, termasuk dalam kehidupan orang percaya. Namun demikian, Injil membawa satu penghiburan yang luar biasa melalui kehadiran Roh Kudus, yang diutus oleh Kristus sebagai Parakletos, iaitu Penghibur, Penolong, dan Pendamping rohani. Dalam Yohanes 14:16, Yesus berkata, “Aku akan meminta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” Perkataan Yunani Parakletos mengandungi pengertian yang dalam, merujuk kepada Dia yang berdiri di sisi kita untuk memberikan kekuatan, penghiburan, dan pertolongan dalam masa kesusahan. Dengan ini, Roh Kudus bukan sahaja hadir sebagai saksi iman, tetapi juga sebagai sumber kekuatan batin ketika menghadapi pencobaan, kesedihan, dan tekanan hidup.
Peranan Roh Kudus sebagai Penghibur menjadi sangat nyata dalam situasi-situasi kehidupan yang menyakitkan seperti kehilangan orang yang dikasihi, kekecewaan dalam hubungan, kegagalan dalam kerjaya, atau cabaran kesihatan. Dalam keadaan-keadaan ini, kekuatan emosi manusia sering kali tidak mencukupi, dan kata-kata manusia pun tidak mampu menjangkau kedalaman duka. Namun, Roh Kudus bekerja secara halus tetapi nyata, menenangkan hati, memberikan damai yang melampaui pengertian manusia, dan mengingatkan janji-janji Allah yang setia. Seperti yang dinyatakan dalam Filipi 4:7, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan fikiranmu dalam Kristus Yesus.” Inilah damai yang tidak bergantung kepada keadaan luar, tetapi bersumber daripada kehadiran Roh Kudus yang diam dalam hati orang percaya.
Lebih daripada sekadar menenangkan perasaan, penghiburan Roh Kudus juga membawa pemulihan rohani yang menguatkan kembali iman dan pengharapan. Ia membantu orang percaya untuk melihat penderitaan bukan sebagai pengakhiran, tetapi sebagai ruang bagi pertumbuhan rohani dan pengalaman kebergantungan kepada Tuhan. Dalam konteks ini, penderitaan menjadi tempat di mana kasih dan pemeliharaan Allah dinyatakan melalui pekerjaan Roh Kudus. Maka itu, orang percaya dipanggil untuk membuka hati kepada penghiburan Roh Kudus, bukan hanya untuk mengatasi kesakitan, tetapi juga untuk mengalami kedamaian dan kekuatan ilahi yang mengangkat mereka di tengah badai kehidupan.
3. Menginsafkan Akan Dosa dan Kebenaran
Salah satu pekerjaan yang paling penting tetapi sering tidak disedari daripada Roh Kudus ialah peranan-Nya dalam menginsafkan hati manusia akan dosa. Dalam Yohanes 16:8, Yesus dengan jelas menyatakan bahawa “apabila Ia datang, Ia akan menginsafkan dunia akan dosa, kebenaran dan penghakiman.” Kata “menginsafkan” di sini membawa pengertian memperlihatkan keadaan berdosa manusia dengan begitu jelas sehingga hati nurani tidak lagi dapat berdalih atau menafikan kesalahan itu. Inilah pekerjaan Roh Kudus yang tidak dapat dilakukan oleh kekuatan manusia, iaitu menyingkapkan realiti kerosakan rohani yang tersembunyi dan membawa seseorang kepada kesedaran mendalam akan keperluan akan anugerah Allah.
Tanpa pekerjaan Roh Kudus, manusia cenderung untuk merasionalisasi dosa atau melihatnya sebagai kelemahan yang boleh dimaafkan secara moral. Namun, Roh Kudus bekerja secara halus dalam hati untuk menyatakan betapa seriusnya pelanggaran terhadap kekudusan Tuhan, dan mendorong kepada pertobatan yang sejati. Penginsafan ini bukan bertujuan menjatuhkan atau mempermalukan, tetapi untuk membangunkan semula hubungan yang rosak antara manusia dengan Penciptanya. Dalam pengalaman rohani, banyak orang percaya dapat menyaksikan bagaimana dorongan untuk bertobat, rasa bersalah yang kudus, dan keinginan untuk kembali kepada jalan Tuhan adalah hasil langsung daripada sentuhan Roh Kudus di hati mereka.
Lebih daripada itu, Roh Kudus juga menginsafkan orang percaya akan kebenaran yang terdapat di dalam Kristus. Roh Kudus memimpin umat Tuhan untuk mengenal apa yang benar menurut ukuran Firman Tuhan. Ia bukan hanya menyatakan dosa, tetapi juga menunjukkan jalan pembebasan melalui kebenaran. Maka itu, pekerjaan penginsafan ini bersifat membina: membawa manusia keluar dari kegelapan kepada terang, daripada kebinasaan kepada kehidupan yang berkelimpahan. Penginsafan oleh Roh Kudus menghasilkan perubahan dalaman yang sejati, yang kemudiannya menghasilkan buah pertobatan yang kelihatan dalam cara hidup seseorang. Justeru, setiap orang percaya harus membuka hati kepada pekerjaan ini dengan kerendahan dan penyerahan diri, kerana melalui penginsafan inilah maka pembaharuan hidup yang sejati akan memancar.
4. Memimpin Doa dan Penyembahan
Penyembahan dan doa merupakan inti kehidupan rohani orang Kristian, namun realitinya, banyak orang percaya sering merasa lemah, tidak tahu bagaimana harus berdoa dengan tepat atau menyembah dengan benar. Dalam kelemahan manusiawi inilah Roh Kudus memainkan peranan penting sebagai Penolong yang memimpin, dan memampukan umat Allah untuk berhubungan dengan Tuhan secara benar dan berkenan. Rasul Paulus menegaskan dalam Roma 8:26, “Roh membantu kita dalam kelemahan kita, kerana kita tidak tahu bagaimana sepatutnya kita berdoa; tetapi Roh itu sendiri berdoa untuk kita dengan keluhan yang tidak terucapkan.” Ayat ini menunjukkan bahawa doa yang sejati bukanlah semata-mata hasil kecerdasan atau kefasihan manusia, tetapi lahir daripada pertolongan Roh Kudus yang bekerja dalam hati yang berserah kepada Allah.
Roh Kudus bukan sahaja membantu dalam aspek teknikal doa, tetapi lebih mendalam lagi, Ia memurnikan motivasi, memurnikan keintiman, dan menyesuaikan isi doa dengan kehendak Allah. Ia menyelaraskan hati manusia yang terbatas dengan kehendak Ilahi yang sempurna. Dalam hal ini, Roh Kudus menjadi pengantara yang menerjemahkan kerinduan hati yang terdalam, bahkan keluhan dan tangisan yang tidak terungkapkan, ke dalam bentuk komunikasi rohani yang berkenan di hadapan Allah. Di sinilah terletaknya keunikan hubungan rohani orang percaya dengan Tuhan, doa bukan sekadar ritual, tetapi persekutuan yang intim dan hidup bersama Allah yang kudus melalui pertolongan Roh Kudus.
Selain dalam doa, Roh Kudus juga memimpin umat dalam penyembahan yang sejati. Seperti yang dikatakan oleh Yesus dalam Yohanes 4:24, “Allah itu Roh, dan barang siapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.” Ini bermaksud penyembahan yang berkenan bukan berdasarkan bentuk luaran semata-mata, tetapi lahir dari hati yang dipenuhi dan digerakkan oleh Roh Kudus. Penyembahan yang dipimpin oleh Roh menghasilkan kerendahan hati, kekaguman kepada kekudusan Tuhan, dan kesediaan untuk taat kepada Firman-Nya. Dalam banyak gereja, terutama dalam ibadah yang karismatik mahupun yang liturgis, pengalaman kehadiran Roh Kudus semasa pujian dan penyembahan menjadi pengakuan nyata bahawa Roh Kuduslah yang menggerakkan hati umat untuk meninggikan Allah.
Di sisi lain, pemahaman akan peranan Roh Kudus dalam penyembahan dan doa memberi peringatan penting agar umat Tuhan tidak menjadikan ibadah sebagai rutinitas yang kosong atau sekadar penampilan luaran. Penyembahan yang benar adalah respons hati kepada kehadiran Tuhan yang nyata, dan ini hanya mungkin melalui pertolongan Roh Kudus yang membangkitkan kesedaran rohani dalam diri manusia. Seperti yang dijelaskan oleh Emil S. Brunner "dalam konteks liturgi dan kehidupan rohani, Roh Kudus membentuk sikap batiniah yang benar untuk menyembah Allah dengan segenap jiwa dan hati." Maka, penyembahan dan doa yang sejati bukan hanya menenangkan jiwa, tetapi juga memperbaharui hidup, menyatukan kehendak kita dengan kehendak Allah, dan menjadikan kita semakin serupa dengan Kristus.
5. Menghasilkan Buah Roh
Salah satu manifestasi yang paling nyata daripada pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari adalah Buah Roh. Dalam Galatia 5:22–23, Rasul Paulus menyenaraikan sembilan aspek Buah Roh, iaitu kasih, sukacita, damai, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan dan penguasaan diri. Buah ini bukanlah hasil usaha manusia, tetapi merupakan hasil daripada kehadiran dan pembentukan Roh Kudus dalam hidup orang percaya. Ia tidak boleh direka atau dipaksakan secara luaran, tetapi tumbuh secara organik dalam kehidupan yang tunduk kepada pimpinan Roh.
Berbeza dengan karunia Roh (charismata) yang diberikan sesuai kehendak Tuhan dan berbeza-beza pada setiap individu, Buah Roh adalah panggilan bagi semua orang percaya tanpa pengecualian. Kehidupan yang dipenuhi Roh tidak hanya dinyatakan dalam pengalaman rohani atau kemampuan pelayanan mereka, tetapi lebih penting lagi dalam karakter yang dibentuk serupa dengan Kristus. Kasih yang sabar, damai di tengah tekanan, kelembutan dalam pertuturan, serta penguasaan diri dalam godaan adalah ekspresi yang kuat dari pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan kita sehari-hari.
Proses pertumbuhan Buah Roh ini memerlukan ketekunan dalam hidup rohani: disiplin doa, pembacaan Firman, serta penyerahan diri yang konsisten kepada kehendak Tuhan. Roh Kudus bekerja seperti seorang tukang kebun rohani yang menanam, menyiram, dan menyuburkan kehidupan batin orang percaya agar menghasilkan buah yang manis di mata Allah dan membawa berkat kepada sesama. Seperti pokok yang menghasilkan buah mengikut musimnya, begitu juga Roh Kudus membentuk pertumbuhan rohani sesuai waktu dan tahapan yang Tuhan tetapkan. Namun, pertumbuhan ini harus disertai dengan kerjasama aktif dari pihak orang percaya, iaitu tidak memadamkan atau mendukakan Roh Kudus dalam hidup mereka (Efesus 4:30).
Oleh itu, kehadiran Buah Roh dalam kehidupan seorang Kristian menjadi saksi yang kuat tentang realiti Kebenaran dan kuasa Roh Kudus. Eka Darmaputera menekankan bahawa "pertumbuhan karakter kristiani adalah tanda otentik keberadaan Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya, bukan sekadar pengalaman spiritual yang spektakuler." Maka, orang percaya dipanggil bukan hanya untuk dipenuhi oleh Roh Kudus, tetapi juga untuk membenarkan Roh Kudus membentuk mereka secara nyata.
6. Memberi Karunia Roh (Charismata)
Salah satu aspek penting dalam pekerjaan Roh Kudus adalah pemberian karunia-karunia rohani, yang dalam bahasa Yunani disebut charismata. Karunia-karunia ini diberikan bukan untuk kepentingan peribadi, tetapi untuk membangun tubuh Kristus, iaitu gereja, dan melengkapi orang percaya bagi pekerjaan pelayanan. Rasul Paulus secara eksplisit membicarakan hal ini dalam tiga suratnya: 1 Korintus 12, Roma 12, dan Efesus 4. Dalam 1 Korintus 12, Paulus menyebutkan pelbagai karunia seperti hikmat, pengetahuan, iman, penyembuhan, mukjizat, nubuat, membedakan roh, bahasa lidah dan penafsir bahasa lidah. Semua karunia ini berasal dari Roh yang satu, dan diberikan sesuai dengan kehendak-Nya demi kesatuan dan kemajuan umat Tuhan.
Karunia Roh bukanlah ukuran kedewasaan rohani, melainkan alat yang harus digunakan dalam kasih. Inilah yang menjadi penekanan penting dalam 1 Korintus 13, di mana kasih ditempatkan sebagai jalan yang paling utama. Ini menandakan bahawa charismata hanya berfungsi dengan benar apabila digunakan dalam prinsip kasih dan kerendahan hati. Pemberian karunia tidak dimaksudkan untuk meninggikan diri atau membandingkan antara satu dengan yang lain, tetapi untuk memperkuat iman dan pelayanan bersama dalam komuniti. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Abraham van de Beek, "karunia roh adalah ekspresi dari kehidupan baru di dalam Kristus yang harus diarahkan kepada pelayanan kepada sesama."
Dalam konteks kehidupan harian, karunia Roh dapat diwujudkan melalui pelbagai bentuk pelayanan: mengajar, menasihati, memberi dengan murah hati, memimpin dengan bijaksana, atau menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang memerlukan. Ini semua bukan semata-mata tugas mereka yang berada di mimbar, tetapi juga melibatkan setiap anggota tubuh Kristus dalam peranan yang spesifik dan bermakna. Menurut Petrus Djatmiko, "gereja yang hidup adalah gereja yang memberi ruang bagi setiap orang percaya untuk melayani menurut karunia yang diterimanya dari Roh Kudus."
Namun, penggunaan karunia Roh harus disertai dengan penilaian yang bijaksana dan sesuai dengan ajaran Kitab Suci. Setiap manifestasi karunia perlu diuji, supaya tidak disalahgunakan atau diselewengkan dari tujuannya. Sejarah gereja menunjukkan bahawa penyimpangan terhadap karunia sering terjadi (Montanisme) apabila karunia lebih ditekankan daripada karakter, dan pengalaman lebih diutamakan daripada kebenaran Firman. Oleh itu, gereja masa kini dipanggil untuk menegakkan keseimbangan antara kuasa dan kasih, antara karunia dan buah Roh, agar pekerjaan Roh Kudus benar-benar membangun umat dan memuliakan Kristus.
7. Memperbaharui Akal Budi dan Menolong dalam Pertumbuhan Rohani
Salah satu pekerjaan penting Roh Kudus dalam kehidupan orang percaya ialah memperbaharui akal budi dan membimbing kepada pertumbuhan rohani yang sejati. Dalam Roma 12:2, Rasul Paulus menasihatkan supaya orang percaya tidak menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi “berubahlah oleh pembaharuan budimu” (metamorphousthe tē anakainōsei tou noos), satu proses transformatif yang memungkinkan seseorang memahami kehendak Allah. Pembaharuan ini bukan sekadar perubahan pemikiran secara intelektual, tetapi satu proses rohani yang penting di mana Roh Kudus memampukan orang percaya menilai kehidupan dari perspektif Kristus. Dalam proses ini, akal budi yang telah jatuh dan tercemar oleh dosa dipulihkan untuk mengenali dan mencintai kebenaran.
Roh Kudus bekerja melalui Firman Tuhan untuk menerangi hati dan akal seseorang supaya dapat memahami perkara-perkara rohani secara benar. Ini sejajar dengan apa yang dinyatakan dalam 1 Korintus 2:12-14 bahawa manusia rohani, yang dipimpin oleh Roh Allah, dapat mengerti perkara-perkara yang berasal daripada Allah. Tanpa Roh Kudus, seseorang tidak mungkin memahami kebenaran Injil dengan benar. Ini bermakna, pembacaan dan renungan Alkitab bukan semata-mata latihan mental, tetapi suatu disiplin rohani di mana Roh Kudus aktif menerangi, menegur, menguatkan dan memperbaharui cara pandang kita.
Roh Kudus juga menolong dalam pembentukan karakter yang konsisten dengan kehendak Allah. Pembaharuan akal budi menuntun kepada transformasi kehidupan yang nyata iaitu cara kita berfikir akan mempengaruhi tindakan, keputusan, dan hubungan dengan sesama. Yusak Soleiman menekankan bahawa "pembaharuan oleh Roh Kudus menjadikan manusia baru yang berpikir secara teosentris, bukan egosentris." Ini penting dalam dunia yang makin kearah relativisme moral dan individualisme, di mana suara hati dan akal manusia sering dijadikan ukuran kebenaran. Orang percaya, sebaliknya, dipanggil untuk memiliki akal budi yang dibentuk oleh Firman.
Selain itu, Roh Kudus juga memainkan peranan penting dalam proses pengudusan (sanctification), iaitu pertumbuhan dalam kekudusan sepanjang hidup. Ini bukan proses pasif, tetapi satu kerja sama aktif antara Roh Kudus dan respons taat dari pihak orang percaya. Seperti yang dijelaskan oleh Niko Njotorahardjo, "Roh Kudus terus menuntun orang percaya kepada kekudusan dengan memampukan mereka untuk meninggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru setiap hari." Maka, pertumbuhan rohani bukan hasil kerja keras manusia semata, tetapi buah dari hubungan yang intim dan terus-menerus dengan Roh Kudus.
8. Meneguhkan Iman dan Memberi Keberanian dalam Kesaksian
Roh Kudus bukan sahaja berperanan dalam membentuk karakter rohani, tetapi juga sangat penting dalam menguatkan iman serta memberi keberanian kepada orang percaya untuk bersaksi tentang Kristus. Dalam Kisah Para Rasul 1:8, Yesus sendiri berjanji bahawa apabila Roh Kudus turun ke atas murid-murid-Nya, mereka akan menerima kuasa (dunamis) dan menjadi saksi-Nya sampai ke hujung bumi. Ini menunjukkan bahawa keberanian dalam bersaksi bukan hasil dari kekuatan manusia, tetapi pemberian ilahi melalui kehadiran dan kuasa Roh Kudus. Pekerjaan Roh ini terbukti dalam kehidupan para rasul, yang dahulu takut dan bersembunyi, tetapi kemudian tampil dengan penuh keyakinan memberitakan Injil walau menghadapi aniaya dan penganiayaan.
Keberanian dalam bersaksi juga berkait rapat dengan pemahaman yang benar tentang siapa Kristus, dan ini hanya dimungkinkan oleh pencerahan dari Roh Kudus. Dalam Yohanes 15:26, Yesus menyebut Roh Kudus sebagai “Roh Kebenaran” yang keluar dari Bapa dan memberi kesaksian tentang Dia. Dengan kata lain, Roh Kudus bukan sahaja meneguhkan hati orang percaya untuk bersaksi, tetapi juga mengilhamkan isi kesaksian itu sendiri iaitu kebenaran tentang Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Dalam konteks masa kini yang semakin mencabar, di mana kebebasan beragama kadangkala dibatasi atau disalahertikan, maka peranan Roh Kudus menjadi semakin penting lagi. Orang percaya dipanggil untuk tidak malu akan Injil, dan ini hanya dapat dilakukan apabila iman diteguhkan. Menurut Daud Yusuf, "iman yang teguh adalah buah daripada persekutuan yang hidup dengan Roh Kudus, yang setiap hari memperbarui keberanian untuk tetap hidup dalam kebenaran dan bersaksi meski dalam tekanan dunia."
9. Menyucikan dan Memelihara Kekudusan Hidup
Roh Kudus memiliki peranan yang sangat penting dalam proses pengudusan hidup orang percaya, iaitu membentuk kehidupan yang selaras dengan kekudusan Allah. Dalam 1 Korintus 6:11, Rasul Paulus menegaskan bahawa “kamu telah dibasuh, telah dikuduskan, telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Tuhan kita.” Pengudusan ini tidak hanya berlaku sekali dalam momen keselamatan, tetapi merupakan proses berkelanjutan yang dimampukan oleh pekerjaan Roh Kudus. Roh Kudus membersihkan hati nurani, memperbaharui motivasi batin, dan mengarahkan hidup orang percaya untuk hidup dalam kekudusan yang praktikal. Kekudusan bukanlah sesuatu yang dicapai melalui kekuatan moral manusia semata, tetapi hasil daripada hubungan yang hidup dengan Roh Allah yang bekerja dari dalam.
Dalam kehidupan sehari-hari, Roh Kudus berfungsi sebagai api yang menyucikan, membakar keinginan-keinginan duniawi dan mendorong hati untuk menjauhi dosa. Ia memampukan orang percaya untuk hidup dengan penuh integriti di tengah dunia yang tercemar oleh dosa. Seperti yang ditekankan oleh John Owen, “berperang melawan dosa adalah pekerjaan Roh; tanpa Roh, usaha manusia hanyalah kegagalan yang melelahkan.” Roh Kuduslah yang memberi kuasa untuk mematikan perbuatan-perbuatan tubuh (Rm 8:13) dan menanamkan keinginan yang baru, iaitu mengejar kekudusan dan kesalehan.
Esra Alfred Soru menegaskan bahawa "kehidupan yang dipimpin oleh Roh tidak akan nyaman dengan dosa; sebaliknya, akan ada sensitiviti rohani yang mendorong pengakuan dan pertobatan segera." Roh Kudus menimbulkan “rasa bersalah yang kudus” yang bukan bertujuan menghukum, tetapi untuk membawa kepada pemulihan dan persekutuan kembali dengan Allah. Dalam hal ini, penyucian adalah tanda kasih karunia yang sedang bekerja, bukan beban yang memberatkan.
Lebih daripada itu, Roh Kudus memelihara kekudusan hidup dengan menanamkan rasa takut akan Tuhan, iaitu rasa hormat yang kudus yang mempengaruhi cara kita berpikir, berbicara, dan bertindak. Bambang Noorsena menjelaskan bahawa "Roh Kudus membentuk hati nurani yang tajam, yang berfungsi sebagai kompas moral dalam menghadapi kompleksiti kehidupan moden."
Kesimpulan
Pekerjaan Roh Kudus dalam kehidupan sehari-hari bukanlah suatu pengalaman yang terbatas kepada peristiwa-peristiwa luar biasa atau perasaan spiritual semata-mata, tetapi merupakan realiti rohani yang menyentuh setiap aspek kehidupan orang percaya. Sebagaimana telah dihuraikan dalam pelbagai dimensi: membimbing, menghibur, menginsafkan, menolong dalam doa, menghasilkan buah Roh, memberi karunia, menguatkan kesaksian, hingga menyucikan hidup. Kita melihat bahawa Roh Kudus adalah sahabat ilahi yang senantiasa hadir dan bekerja aktif dalam membentuk kita menjadi serupa dengan Kristus. Kehidupan Kristian yang sejati hanya dapat dijalani dengan pertolongan dan pimpinan Roh Kudus, kerana tanpa-Nya, iman menjadi kering, pelayanan kehilangan kuasa, dan kesaksian menjadi tidak berdaya.
References
Esra Alfred Soru, Dibaharui oleh Roh Kudus (Kupang: Reformed Publications Indonesia, 2020)
Jerry Bridges, The Pursuit of Holiness (Colorado Springs: NavPress, 2006)
Bambang Noorsena, Hidup Kudus dalam Dunia Sekular (Surabaya: Pustaka Teologi, 2019)
Daniel Alexander, Kesaksian yang Mengubahkan (Bandung: Gloria Press, 2020)
Yusak Soleiman, Menghidupi Pembaharuan Budi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017)
Niko Njotorahardjo, Berjalan Bersama Roh Kudus (Surabaya: Literature SAAT, 2012)
Petrus Djatmiko, Karunia Roh dan Pelayanan Jemaat (Yogyakarta: Andi, 2010)
Eka Darmaputera, Etika Kristen: Sebuah Pendekatan Kontekstual (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004)
Emil S. Brunner, Ibadah Kristen dan Kehidupan Gereja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004)
John Owen, The Holy Spirit: His Gifts and Power (Edinburgh: Banner of Truth, 1998)
Martyn Lloyd-Jones, The Plight of Man and the Power of God (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1991)
Wayne Grudem, Systematic Theology (Grand Rapids, MI: Zondervan, 1994)
Frederick Dale Bruner, A Theology of the Holy Spirit (Grand Rapids, MI: Eerdmans, 1970)
J.I. Packer, Keep in Step with the Spirit (Grand Rapids, MI: Baker Books, 2005)
Sinclair B. Ferguson, The Holy Spirit (Downers Grove, IL: IVP Academic, 1996)
R.C. Sproul, Knowing Scripture (Downers Grove, IL: InterVarsity Press, 2009)

Comments
Post a Comment