5 AYAT ALKITAB YANG MENGAJARKAN TENTANG PENGUDUSAN
Penulis: Bellen S. Fred
Pengudusan atau sanctification berasal dari bahasa Ibrani iaitu qadash yang bermaksud untuk menguduskan atau mengasingkan dari sesuatu untuk tujuan kekudusan. Dalam Alkitab , pengudusan ini tertuju kepada Allah atau untuk Allah. Pengudusan dapat dilihat dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, masing-masing mempunyai konteks yang berbeza namun mempunyai tujuan yang sama.
Dalam Perjanjian Lama, pengudusan boleh dikaitkan dengan halal atau kebersihan. Allah menyatakan makanan yang haram dan tidak haram dalam Imamat 11.41-45.
Imamat 11:41 Segala binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, adalah kejijikan, janganlah dimakan. 11:42 Segala yang merayap dengan perutnya dan segala yang berjalan dengan keempat kakinya, atau segala yang berkaki banyak, semua yang termasuk binatang yang merayap dan berkeriapan di atas bumi, janganlah kamu makan, karena semuanya itu adalah kejijikan. 11:43 Janganlah kamu membuat dirimu jijik oleh setiap binatang yang merayap dan berkeriapan dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan semuanya itu, sehingga kamu menjadi najis karenanya. 11:44 Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, maka haruslah kamu menguduskan dirimu dan haruslah kamu kudus, sebab Aku ini kudus, dan janganlah kamu menajiskan dirimu dengan setiap binatang yang mengeriap dan merayap di atas bumi. 11:45 Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus. Perkara utama dari ayat ini adalah kerana Allah kudus (ayat 45), maka bangsa Israel harus hidup kudus dengan tidak memakan makanan yang haram.
Keluaran 13:1 Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: 13:2 "Kuduskanlah bagi-Ku semua anak sulung, semua yang lahir terdahulu dari kandungan pada orang Israel, baik pada manusia maupun pada hewan; Akulah yang empunya mereka." Keluaran 13 adalah berkenaan dengan konteks Allah membunuh anak sulung - manusia atau binatang- dari bangsa Israel. Sekiranya darah yang dikenakan pada pintu rumah orang Israel maka anak sulungnya tidak akan dibunuh. Tindakan Allah membiarkan anak sulung ini untuk hidup, menunjukkan bahawa pengudusan ini merujuk kepada pemilikan Allah. Mereka yang tidak dibunuh adalah milikNya.
Imamat 20:7 Maka kamu harus menguduskan dirimu, dan kuduslah kamu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu. 20:8 Demikianlah kamu harus berpegang pada ketetapan-Ku dan melakukannya; Akulah TUHAN yang menguduskan kamu. Dalam Imamat 20.7-8 juga menunjukkan bangsa Israel harus hidup kudus dengan melakukan perintahNya kerana Dia lah ALLAH yang telah menguduskan mereka. Meskipun demikian pengudusan dalam Perjanjian Lama ini kelihatan lebih perlu dicapai melalui hukum Taurat atau korban, pengudusan di Perjanjian baru juga mempunyai maksud yang sama di mana manusia diasingkan untuk Tuhan melalui pekerjaan Kristus.
Ibrani 10.10 mengatakan sebagai orang percaya, “kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.” Keseluruhan bab 10 di buku Ibrani ini menjelaskan bahawa segala hukum Taurat atau korban persembahan hanyalah prototype kepada antitype iaitu pengorbanan Yesus Kristus. Melalui pengorbanan Yesus ini lah yang menguduskan manusia berdosa, dalam kata lain, manusia diasingkan dari dosa untuk Allah sendiri.
Setiap orang percaya akan terus dikuduskan melalui pembelajaran Firman Tuhan, doa dan ketaatan. Pengudusan ini bersifat progresif yang akan membentuk mereka menjadi seperti Kristus, ini jelas dapat dilihat dalam Filipi 2.12-13. Allah yang akan mengerjakan kita untuk hidup dalam kekudusan.
FIlipi 2:12 Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, …. 2:13 karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya.
Pengudusan ini yang menyatakan manusia diasingkan dari dosa lebih jelas terlihat dalam Roma 6.19-22.
Roma 6:19 Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan. 6:20 Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. 6:21 Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. 6:22 Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Kehidupan orang percaya tidak lagi dibawah hamba dosa tetapi hamba kebenaran dan inilah yang membawa kepada pengudusan, yang akhirnya adalah hidup yang kekal.
Tentu sekali pengudusan yang progresif ini adalah pertolongan dari Roh Kudus untuk kita tidak hidup mengikut keinginan daging kita. Dalam Galatia 5.16, “hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.”
Secara ringkas, ayat-ayat di atas memberi kita suatu pola pemahaman tentang pengudusan yang Allah tunjukkan kepada generasi manusia yang berbeza, awal dari penciptaan kepada kita sebagai orang percaya di zaman postmoden ini. Realiti kegagalan manusia untuk hidup kudus sudah dicapai hanya melalui satu-satunya yang taat kepada Allah iaitu Yesus Kristus, maka konteks berbeza namun tujuan yang sama iaitu kekudusan ini untuk Allah sendiri kerana Dia Kudus.

Comments
Post a Comment